Monday, May 27, 2013


Palestina… Palestina …
Karya :andhira dhani

Palestina…
Gelora jihad membahana di langit aqsa
Mujahid-mujahid muslim angkat senjata
Membela  negara dan rumah tuhanNya
Cinta damai itu visinya

Bumi aqsa yang suci
Dijamah tangan tangan haram
Setan setan laknat
Zionis yahudi

Kini…
Mulianya sang aqsa tak lagi ada
Rumah tuhan pemersatu umat
Serasa tak lagi bertuan
Ulah ketamakan, keserakahan dan  kedengkian
Musuh umat  islam sepanjang zaman

Palestina…
Dirimu dibanjiri darah-darah suci
Jiwa yang tak berdosa
Dan ketakutan yang tak harus ada
Palestina…
Tubuhmu surga mujahid sejati
Walau raga tak lagi ada
Semangat juang terus membara

Palestina…
Jika dunia di ujung masa
Musuhmu pastikan enyah
Hingga detik kemenangan
Datang menjelang


Palestina… Palestina …
Karya :andhira dhani

Palestina…
Gelora jihad membahana di langit aqsa
Mujahid-mujahid muslim angkat senjata
Membela  negara dan rumah tuhanNya
Cinta damai itu visinya

Bumi aqsa yang suci
Dijamah tangan tangan haram
Setan setan laknat
Zionis yahudi

Kini…
Mulianya sang aqsa tak lagi ada
Rumah tuhan pemersatu umat
Serasa tak lagi bertuan
Ulah ketamakan, keserakahan dan  kedengkian
Musuh umat  islam sepanjang zaman

Palestina…
Dirimu dibanjiri darah-darah suci
Jiwa yang tak berdosa
Dan ketakutan yang tak harus ada
Palestina…
Tubuhmu surga mujahid sejati
Walau raga tak lagi ada
Semangat juang terus membara

Palestina…
Jika dunia di ujung masa
Musuhmu pastikan enyah
Hingga detik kemenangan
Datang menjelang


Palestina… Palestina …
Karya :andhira dhani

Palestina…
Gelora jihad membahana di langit aqsa
Mujahid-mujahid muslim angkat senjata
Membela  negara dan rumah tuhanNya
Cinta damai itu visinya

Bumi aqsa yang suci
Dijamah tangan tangan haram
Setan setan laknat
Zionis yahudi

Kini…
Mulianya sang aqsa tak lagi ada
Rumah tuhan pemersatu umat
Serasa tak lagi bertuan
Ulah ketamakan, keserakahan dan  kedengkian
Musuh umat  islam sepanjang zaman

Palestina…
Dirimu dibanjiri darah-darah suci
Jiwa yang tak berdosa
Dan ketakutan yang tak harus ada
Palestina…
Tubuhmu surga mujahid sejati
Walau raga tak lagi ada
Semangat juang terus membara

Palestina…
Jika dunia di ujung masa
Musuhmu pastikan enyah
Hingga detik kemenangan
Datang menjelang

Tuesday, May 14, 2013

sistem ekskresi

 Ekskresi adalah pengeluaran bahan-bahan yang tidak berguna yang berasal dari sisa metabolisme atau bahan laian yang berlebihan dari sel atau tubuh suatu organisme
Sistem ekskresi adalah suatu sistem yang menyelenggarakan proses pengeluaran zat-zat sisa. Zat-zat sisa ini merupakan hasil proses metabolisme dalam tubuh yang sudah tidak berguna lagi. Seperti pada manusia, di dalam tubuh hewan juga terdapat alat-alat pengeluaran. Alat pengeluaran pada setiap jenis hewan berbeda - beda. Semakin tinggi tingkatan hewan tersebut, maka akan semakin kompleks juga alat pengeluarannya.
Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Proses osmoregulasi diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya. Jika sebuah sel menerima terlalu banyak air maka ia akan meletus, begitu pula sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel akan mengerut dan mati. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme hidup.
Ada tiga pola regulasi:
1. Regulasi hipertonik atau hiperosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih tinggi dari konsentrasi media, misal: pada potadrom (ikan air tawar) Potadrom mempertahankan konsentrasi cairan tubuhnya dengan mengurangi minum danmemperbanyak urineOsmoregulasi beberapa golongan ikan(Telesostei).
2. Regulasi hipotonik atau hipoosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi media, misal: pada oseandrom (ikan air laut), Oseanodrom memperbanyak minum dan mengurangi volume urine. Diadrom, melakukan aktivitas osmoregulasi seperti petadrom bila berada di air tawar dan seperti oseanodrom bila berada di air laut.
3. Regulasi isotonik atau isoosmotik, yaitu bila konsentrasi cairan tubuh sama dengan konsentrasi media, misalnya ikan-ikan pada daerah estuarine (ikan eurihaline) contohnya:
• ikan eurihalin, konsentrasi cairan tubuhnya hampir sama dengan lingkungannya,sehingga hanya sedikit melakukanosmoregulasi Osmoregulasi beberapa golongan ikan
• Ikan Elasmobransi, melakukan osmoregulasi dengan cara menahan urea sampai konsentrasi dalam darah meningkat kira-kira 5 % untuk meningkatkan total tekanan osmose darah ke tingkat yang lebih tinggi dibanding air laut

Sisa metabolisme yang mengandung nitrogen adalah amoniak,(NH3), urea dan asam urat. Bahan tersebut berasal dari perombakan protein. Amoniak dihasilkan dari proses deaminasi asam amino, amoniak adalah zat racun yang sangat berbahaya bagi sel. Pada hewan aquatik  dengan cepat berdifusi dalam air,hewan yang mengekresikan amoniak di sebut amnolitik.
Pada hewan darat amoniak dirubah didalam hati menjadi senyawa kurang berbahaya dalam bentuk urea dan asam urat. Pada kebayakan mamalia, amphibi dan ikan mengekresikan urea di sebut ureolitik.
Ura mudah larut dalam air dan di ekskresikan dalam cairan yang di sebut urin. Pada burung , reptile dan serangga  yang tubuhnya kekurangan air hidup hemat air. Maka dari itu urea mengekresikan persenyawaan yang tidak beracun yaitu asam urat, hewan –hewan ini disebut urikotelik.
Pembentukan bahan-bahan ekskresi 
a.    Amoniak
Hasil deaminasi asam amino yang terjadi pada hati dan juga ginjal dan bersifat sangat racun. Pada tubuh mamalia terdapat amoniak dalam konsentrasi yang sangat kecil yaitu 0,0001- 0,0003 mg per 100 ml darah. Pada amphibi dan ikan konsentrasi lebih tinggi yaitu 0,1 mg/100 ml darah. Pembentukan amoniak pada tubulus ginjal sangat penting untuk keseimbangan asam basa
b.    Urea
Berasal dari bahan organic tertentu seperti asam amino dan purin, pembentuknnya terjadi dihati. Dan sifat racunnya tidak terlalu berbahaya.
c.    Asam urat
Sisa metabolisme yang mengandung nitrogen  pada burung, reptile dan serangga. Di bentuk dari amoniak yang mengandung sedikit hidrogen dibandingkan urea. Di ekskresikan dalam bentuk urea . asam urat dikeluarkan  dalam bentuk kristal. Pada burung dan reptil asam urat dibentuk dalam hari sedangkan pada serangga dibentuk dalam badan malphigi. Pada manusia asam urat berasal dari metabolism purin


2.  ekskresi hewan darat dan aquatik
a. eksresi hewan darat




a.    ekskresi pada hewan aquatic

3. organ- organ ekskresi pada hewan
     a.    kelompok hewan yang belum memiliki organ ekskresi
- coelenterata
- echinodermata
b.    vakuola kontraktil
-    protozoa
-    bunga karang
c.    organ-organ nefridial
1.    protonefridium (yang tertutup)
-    plathyheminthes
-    ascelminthes
2.    metanefridium (terbuka pada ujung)
-    annelida
3.    nefridium
-    molusca
d.    kelenjar antennal
crustacean
e.    pembuluh malphigi
-    serangga
f.    ginjal
-    vertebrata

a.    organ ekskresi pada coelenterate dan echinodermata
dapat mengekskresikan sisa metabolism dengan difusi. Disamping itu coelenterate juga punya astrosit-astrosit yaitu sel ssel fagosit yang dapat menelan dan memindahkan zat asing.
Pada echinodermata tidak ada masalah dalam osmoregulasi karena tubuhnya sudah isoosmotik dengan air laut

b.    vakuola kontraktil
protozoa pada air tawar selalu memilki vakuola kontraktil sedangkan yang di laut tidakvakuola kontraktil berfungsi sebagai organ regulasi osmotic dan regulasi volume.
Anatomi vakuola kontraktil dapat memiliki tempat yang tetap dalam  sel misalnya pada paramecium, namun ada juga tempatnya sembarang seperti pada amuba. Lumen vakuola kontraktil dibatasi oleh suatu membran tunggal yang tipis. Di sekitar membrane terdapat suatu lapisan tebal yang disebut spongium  yang penuh dengan vesikel-vesikel kecil, sekitar lapisan vesikel-vesikel itu ada apisan mitokondria yang diperkirakan menyediakan energy yang diperlukan untuk kerja osmotic dalam membentuk isi vakuola

c.    organ-organ nefridial
1.    protonefridia : suatu pembuluh yang ujung internalnya tertutup dan bagian dalam ujung ini memiliki sel api atau sel rambut. Biasanya terdapat pada hewan yang tidak punya rongga tubuh yang sebenarnyadan tidak mempunyai system sirkulasi yang bertekanan tinggi.
2.    metanefridia : suatu pembuluh ekskretori yang ujungnya berhubungan dengan rongga tubuh (coelom) melalui struktur yang berbentuk corong yang disebut nefrostoma. Hanya dijumpai pada hewan yang memiliki coelom
3.    nefridium molusca :pada prinsipnya hampir sama pada ginjal vertebrata
d.    kelenjar antennal  crustacea
organ renal pada crustacean adalah kelenjar antennal atau kelenjar hijau yang terletak di kepala, yang masing-masing terdiri dari suatu kantong awal, yaitu suatu saluran ekskretori bergulung yang panjang, dan suatu kandung kencing yang bermuara sebagai pada lubang ekskretori dekat dasar antenna dan disebut kelenjar antenna

e.    saluran malphigi serangga
system ekskretori serangga terdiri dari saluran-saluran yang dikenal sebagai saluran malphigi. Jumlahnya berkisar dari dua sampai beberapa ratus. Setiap saluran bermuara ke intestin. Suatu susunan khusus saluran malphigi yang berhubungan dengan kemampuan luar biasa dalam menarik air dari kotoran. Ujung saluran yang buntu terletak dekat dengan rectum. Keseluruhan struktur dikelilingi oleh suatu membran yang terisi dengan cairan perirektal yang mengelilingi baik saluran malphigi maupun epithelial rectal tapi dipisahkan dari hemolimfa umum
f.     ginjal vertebrata
•    Ginjal pronefros (ikan dan amphibi)
Mula-mula berkembang pronefros di daerah anterior, terdapat 1-13 psang pembuluh pronefros.





C. ekskresi dan osmoregulasi pada hewan tingkat rendah dan tinggi
1. Hewan tingkat rendah
2. Hewan tingkat tinggi
a.    Sistem Ekskresi  Pisces (Ikan). Ginjal pada ikan adalah sepasang ginjal sederhana yang disebut mesonefros. Setelah dewasa, mesonefros akan berkembang menjadi ginjal opistonefros. Tubulus ginjal pada ikan mengalami modifikasi menjadi saluran yang berperan dalam transport spermatozoa (duktus eferen) ke arah kloaka. Ikan memiliki bentuk ginjal yang berbeda, sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan sekitarnya. Pada ikan air tawar, kondisi lingkungan sekitar yang hipotonis membuat jaringan ikan sangat mudah mengalami kelebihan cairan. Ginjal ikan air tawar memiliki kemiripan dengan ginjal manusia. Mekanisme filtrasi dan reabsorpsi juga terjadi pada ginjal ikan. Mineral dan zat-zat makanan lebih banyak diabsorbsi, sedangkan air hanya sedikit diserap. Dengan sedikit minum dan mengeluarkan urine dalam volume besar, ikan air tawar menjaga jaringan tubuhnya agar tetap dalam keadaan hipertonik. Ekskresi amonia dilakukan dengan cara difusi melalui insangnya. Ikan yang hidup di air laut, memiliki cara adaptasi yang berbeda. Ikan air laut sangat mudah mengalami dehidrasi karena air dalam tubuhnya akan cenderung mengalir keluar ke lingkungan sekitar melalui insang, mengikuti perbedaan tekanan osmotik. Ikan air laut tidak memiliki glomerulus sehingga mekanisme filtrasi tidak terjadi dan reabsorpsi pada tubulus juga terjadi dalam skala yang kecil. Oleh karena itu, ikan air laut beradaptasi dengan banyak meminum air laut, melakukan desalinasi (menghilangkan kadar garam dengan melepaskannya lewat insang), dan menghasilkan sedikit urine (Gambar 8.12). Urine yang dihasilkan akan dikeluarkan melalui lubang di dekat anus. Hal ini berbeda dengan pengeluaran urine dari ikan Chondrichthyes, misalnya hiu. Ikan hiu mengeluarkan urine melalui seluruh permukaan kulitnya.

Gambar 8.12 Sistem ekskresi pada (a) ikan air tawar dan (b) ikan air laut.
Ikan :
Ikan meamiliki sepasang ginjal yang memanjang {opistonefros) dan berwarna kemerah-merahan.
Mekanismenya :
Ikan Ikan mengekskresikan amonia dan aktif menyerap oksigen melalui insang serta mengeluarkan urin dalam jumlah yang besar melaui kloaka atau parus urogenitalis dan karbondioksida dikeluarkan melalui insang pada ikan yang hidup di air tawar megekskresikan aminia dan aktif menyerap oksigen melalui insang serta menghancurkan urin.
Sedangkan ikan yang hidup di air laut akan mengekskresikan amonia melalui urin yang jumlahnya sedikit.

b. Sistem Ekskresi Amphibia (Katak). Tipe ginjal pada Amphibia adalah tipe ginjal opistonefros. Katak jantan memiliki saluran ginjal dan saluran kelamin yang bersatu dan berakhir di kloaka. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada katak betina. Ginjal pada katak seperti halnya pada ikan, juga menjadi salah satu organ yang sangat berperan dalam pengaturan kadar air dalam tubuhnya. Kulit Amphibia yang tipis dapat menyebabkan Amphibia kekurangan cairan jika terlalu lama berada di darat. Begitu pula jika katak berada terlalu lama dalam air tawar. Air dengan sangat mudah masuk secara osmosis ke dalam jaringan tubuh melalui kulitnya.
 Katak dapat mengatur laju filtrasi dengan bantuan hormon, sesuai dengan kondisi air di sekitarnya. Ketika berada dalam air dengan jangka waktu yang lama, katak mengeluarkan urine dalam volume yang besar. Namun, kandung kemih katak dapat dengan mudah terisi air. Air tersebut dapat diserap oleh dinding kandung kemihnya sebagai cadangan air ketika katak berada di darat untuk waktu yang lama.

c. Sistem Ekskresi Reptilia. Tipe ginjal pada Reptilia adalah metanefros. Pada saat embrio, Reptilia memiliki ginjal tipe pronefros, kemudian pada saat dewasa berubah menjadi mesonefros hingga metanefros.

Gambar 8.14 Sistem ekskresi pada Reptilia, menggunakan tipe ginjal metanefros
Hasil ekskresi pada Reptilia adalah asam urat. Asam urat ini tidak terlalu toksik jika dibandingkan dengan amonia yang dihasilkan oleh Mammalia. Asam urat dapat juga diekskresikan tanpa disertai air dalam volume yang besar. Asam urat tersebut dapat diekskresikan dalam bentuk pasta berwarna putih. Beberapa jenis Reptilia juga menghasilkan amonia. Misalnya, pada buaya dan kura-kura. Penyu yang hidup di lautan memiliki kelenjar ekskresi untuk mengeluarkan garam yang dikandung dalam tubuhnya. Muara kelenjar ini adalah di dekat mata. Hasil ekskresi yang dihasilkan berupa air yang mengandung garam. Ketika penyu sedang bertelur, kita seringkali melihatnya mengeluarkan semacam air mata. Namun, yang kita lihat sebenarnya adalah hasil ekskresi garam. Ular, buaya, dan aligator tidak memiliki kandung kemih sehingga asam urat yang dihasilkan ginjalnya keluar bersama feses melalui kloaka.

d.    Sistem Ekskresi Aves (Burung). Burung memiliki ginjal dengan tipe metanefros. Burung tidak memiliki kandung kemih sehingga urine dan fesesnya bersatu dan keluar melalui lubang kloaka. Urine pada burung diekskresikan dalam bentuk asam urat. Metabolisme burung sangat cepat. Dengan demikian, sistem ekskresi juga harus memiliki dinamika yang sangat tinggi. Peningkatan efektivitas ini terlihat pada jumlah nefron yang dimiliki oleh ginjal burung. Setiap 1 mm3 ginjal burung, terdapat 100–500 nefron. Jumlah tersebut hampir 100 kali lipat jumlah nefron pada manusia. Jenis burung laut juga memiliki kelenjar ekskresi garam yang bermuara pada ujung matanya. Hal tersebut untuk mengimbangi pola makannya yang memangsa ikan laut dengan kadar garam tinggi.





e. sistem ekskresi pada mamalia
Sistem ekskresi pada manusia dan vertebrata lainnya melibatkan organ paru-paru, kulit, ginjal, dan hati. Namun yang terpenting dari keempat organ tersebut adalah ginjal.
1. Ginjal
Fungsi utama ginjal adalah mengekskresikan zat-zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogen misalnya amonia. Amonia adalah hasil pemecahan protein dan bermacam-macam garam, melalui proses deaminasi atau proses pembusukan mikroba dalam usus. Selain itu, ginjal juga berfungsi mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan, misalnya vitamin yang larut dalam air; mempertahankan cairan ekstraselular dengan jalan mengeluarkan air bila berlebihan; serta mempertahankan keseimbangan asam dan basa. Sekresi dari ginjal berupa urin.

Gbr. Alat-alat ekskresi pada manusia yang berupa
ginjal, kulit, paruparu, dan kelenjar keringat
a. Struktur Ginjal
Bentuk ginjal seperti kacang merah, jumlahnya sepasang dan terletak di dorsal kiri dan kanan tulang belakang di daerah pinggang. Berat ginjal diperkirakan 0,5% dari berat badan, dan panjangnya ± 10 cm. Setiap menit 20-25% darah dipompa oleh jantung yang mengalir menuju ginjal.
Ginjal terdiri dari tiga bagian utama yaitu:
a. korteks (bagian luar)
b. medulla (sumsum ginjal)
c. pelvis renalis (rongga ginjal).
Bagian korteks ginjal mengandung banyak sekali nefron ± 100 juta sehingga permukaan kapiler ginjal menjadi luas, akibatnya perembesan zat buangan menjadi banyak. Setiap nefron terdiri atas badan Malphigi dan tubulus (saluran) yang panjang. Pada badan Malphigi terdapatkapsul Bowman yang bentuknya seperti mangkuk atau piala yang berupa selaput sel pipih. Kapsul Bowman membungkus glomerulus. Glomerulus berbentuk jalinan kapiler arterial. Tubulus pada badan Malphigi adalah tubulus proksimal yang bergulung dekat kapsul Bowman yang pada dinding sel terdapat banyak sekali mitokondria. Tubulus yang kedua adalah tubulus distal.

Gbr. Ginjal terletak di dorsal pinggang berjumlah sepasang

Gbr. Struktur dalam (anatomi) ginjal
Pada rongga ginjal bermuara pembuluh pengumpul. Rongga ginjal dihubungkan oleh ureter (berupa saluran) ke kandung kencing (vesika urinaria) yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara urin sebelum keluar tubuh. Dari kandung kencing menuju luar tubuh urin melewati saluran yang disebut uretra.
b. Proses-proses di dalam Ginjal
Di dalam ginjal terjadi rangkaian prows filtrasi, reabsorbsi, dan augmentasi.
1. Penyaringan (filtrasi)
Filtrasi terjadi pada kapiler glomerulus pada kapsul Bowman. Pada glomerulus terdapat sel-sel endotelium kapiler yang berpori (podosit) sehingga mempermudah proses penyaringan. Beberapa faktor yang mempermudah proses penyaringan adalah tekanan hidrolik dan permeabilitias yang tinggi pada glomerulus. Selain penyaringan, di glomelurus terjadi pula pengikatan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan.
Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer) yang komposisinya serupa dengan darah tetapi tidak mengandung protein. Pada filtrat glomerulus masih dapat ditemukan asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garamgaram lainnya.

2. Penyerapan kembali (Reabsorbsi)
Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu, 99% filtrat glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus kontortus distal.
Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari zat-zat ini direabsorbsi beberapa kali.
Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin seku Zder yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya ureum dari 0,03`, dalam urin primer dapat mencapai 2% dalam urin sekunder.
Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam mino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osn osis. Reabsorbsi air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.
3. Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warm dan bau pada urin.
Hal-hal yang Mempengaruhi Produksi Urin
Hormon anti diuretik (ADH) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis posterior akan mempengaruhi penyerapan air pada bagian tubulus distal karma meningkatkan permeabilitias sel terhadap air. Jika hormon ADH rendah maka penyerapan air berkurang sehingga urin menjadi banyak dan encer. Sebaliknya, jika hormon ADH banyak, penyerapan air banyak sehingga urin sedikit dan pekat. Kehilangan kemampuan mensekresi ADH menyebabkan penyakti diabetes insipidus. Penderitanya akan menghasilkan urin yang sangat encer.
Gambar 4:Mekanisme kerja pengaruh hormon ADH terhadap produksi urin.
Selain ADH, banyak sedikitnya urin dipengaruhi pula oleh faktor-faktor berikut :
a. Jumlah air yang diminum
Akibat banyaknya air yang diminum, akan menurunkan konsentrasi protein yang dapat menyebabkan tekanan koloid protein menurun sehingga tekanan filtrasi kurang efektif. Hasilnya, urin yang diproduksi banyak.
b. Saraf
Rangsangan pada saraf ginjal akan menyebabkan penyempitan duktus aferen sehingga aliran darah ke glomerulus berkurang. Akibatnya, filtrasi kurang efektif karena tekanan darah menurun.
c. Banyak sedikitnya hormon insulin
Apabila hormon insulin kurang (penderita diabetes melitus), kadar gula dalam darah akan dikeluarkan lewat tubulus distal. Kelebihan kadar gula dalam tubulus distal mengganggu proses penyerapan air, sehingga orang akan sering mengeluarkan urin.

D. pengaruh lingkungan terhadap osmoregulasi
1. Osmoregulasi pada hewan invertebrata laut
Kebanyakan invertebrata yang berhabitat di laut tidak secara aktif mengatur sistem osmosis mereka, dan dikenal sebagai osmoconformer. Osmoconformer memiliki osmolaritas internal yang sama dengan lingkungannya sehingga tidak ada tendensi untuk memperoleh atau kehilangan air. Karena kebanyakan osmoconformer hidup di lingkungan yang memiliki komposisi kimia yang sangat stabil (i.e. di laut) maka osmoconformer memiliki osmolaritas yang cendrung konstan.
Sedangkan osmoregulator adalah organisme yang menjaga osmolaritasnya tanpa tergantung lingkungan sekitar. Oleh karena kemampuan meregulasi ini maka osmoregulator dapat hidup di lingkungan air tawar, daratan, serta lautan. Di lingkungan dengan konsentrasi cairan yang rendah, osmoregulator akan melepaskan cairan berlebihan dan sebaliknya
2. Osmoregulasi pada hewan vertebrata laut
Osmoregulasi pada hewan vertebrata laut dibagi kedalam dua kelompok yaitu:
a. Konformer Osmotik dan Ionik : Siklostomata (hagfish) danVertebrata primitif osmoregulasinya sama seperti invertebrata laut.
b. Regulator Osmotik dan Ionik : Regulasi osmotik dan ionik tidak sama dan memperlihatkan tingkatan dan Konsentrasi osmotik plasma mendekati sepertiga konsentrasi osmotik air laut.
Mekanisme Osmoregulasi Vertebrata Laut misalnya teleostai laut diperlukan mekanisme adaptasi untuk menghindari kehilangan air dari tubuhnya. Pada Elasmobrankhii menggunakan kelenjar rektal yaiut untuk mengeluarkan kelebihan Na+ secara aktif ,dan menghasilkan sedikit urin untuk Urin dimanfaatkan untuk mengeluarkan kelebihan NaCl.
Pada Mamalia Laut yaitu lumba-lumba dan ikan paus Masalah pemasukan garam yang terlalu banyak yang masuk bersama makanan,bisa Diatasi dengan organ ginjal yang sangat efisien yang dapat menghasilkan urin yang kepekatannya 3 – 4 kali dari cairan plasmanya.
3. Osmoregulai pada hewan di lingkungan air tawar .
Masalah yang dihadapi hewan air tawar adalah Tekanan Osmotik cairan tubuh hewan air tawar lebih tinggi dari lingkungannya (hiperosmotik/hipertoniskarena terancam oleh Kehilangan garam dan Pemasukan air yang berlebihan.Mekanisme Antisipasi Kelebihan atau Kekurangan Ion yaitu dengan transfor aktif dan difusi.
4. Osmoregulasi pada Hewan di Lingkungan Payau
Hewan Akuatik tidak selamanya menetap di habitat yang tetap (air laut atau air tawar) saat tertentu masuk ke daerah payau.contohnya belut , lampeer, dan ikan salmon.hewan hewan ini memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap perubahan kadar garam (kadar garam di daerah payau selalu berubah), selain itu larva nyamuk Aedes campestris Tumbuh baik di air tawar maupun di air bergaram yang lebih pekat dari cairan hemolimfenya Hidup di danau yang mengandung garam alkalis, dengan kandungan utama natrium karbonat dengan pH lebih dari 10Toleran terhadap kadar garam tiga kali lebih tinggi dari kadar garam air laut.
5. Osmoregulasi pada hewan di lingkungan darat
1) Keuntungan :
Hewan yang berhasil hidup di darat
Mudah memperoleh oksigen
2) Kerugian :
Masalah keseimbangan air dan ion
Mudah terancam dehidrasi
Kehilangan air dari tubuh pada hewan darat dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu :
1. Kandungan uap air di atmosfer
2. Tekanan barometrik
3. Gerakan udara
4. Luas permukaan penguapan
5.Suhu
6. Osmoregulasi padainvertebrata darat
padainvertebrata darat umumnya merupakan golongan Artropoda, Insekta, dan laba-laba, sedangkan yang paling banyak ialah Insekta.pada insect alat pengatur pelepasan airya adalah lapisan kutikula spirakel, namun masih saja kehilangan air , sehingga untuk membatasi pelepasan air dilakukan dengan Respirasi diskontinyu. dengan cara pengambilan oksigen (O2) dilakukan dengan laju yang kontinyu dan pelepasan karbondioksida (CO 2)dilakukan secara periodik.

sistem ekskresi

 Ekskresi adalah pengeluaran bahan-bahan yang tidak berguna yang berasal dari sisa metabolisme atau bahan laian yang berlebihan dari sel atau tubuh suatu organisme
Sistem ekskresi adalah suatu sistem yang menyelenggarakan proses pengeluaran zat-zat sisa. Zat-zat sisa ini merupakan hasil proses metabolisme dalam tubuh yang sudah tidak berguna lagi. Seperti pada manusia, di dalam tubuh hewan juga terdapat alat-alat pengeluaran. Alat pengeluaran pada setiap jenis hewan berbeda - beda. Semakin tinggi tingkatan hewan tersebut, maka akan semakin kompleks juga alat pengeluarannya.
Osmoregulasi adalah proses mengatur konsentrasi cairan dan menyeimbangkan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme hidup. Proses osmoregulasi diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya. Jika sebuah sel menerima terlalu banyak air maka ia akan meletus, begitu pula sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel akan mengerut dan mati. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme hidup.
Ada tiga pola regulasi:
1. Regulasi hipertonik atau hiperosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih tinggi dari konsentrasi media, misal: pada potadrom (ikan air tawar) Potadrom mempertahankan konsentrasi cairan tubuhnya dengan mengurangi minum danmemperbanyak urineOsmoregulasi beberapa golongan ikan(Telesostei).
2. Regulasi hipotonik atau hipoosmotik, yaitu pengaturan secara aktif konsentrasi cairan tubuh yang lebih rendah dari konsentrasi media, misal: pada oseandrom (ikan air laut), Oseanodrom memperbanyak minum dan mengurangi volume urine. Diadrom, melakukan aktivitas osmoregulasi seperti petadrom bila berada di air tawar dan seperti oseanodrom bila berada di air laut.
3. Regulasi isotonik atau isoosmotik, yaitu bila konsentrasi cairan tubuh sama dengan konsentrasi media, misalnya ikan-ikan pada daerah estuarine (ikan eurihaline) contohnya:
• ikan eurihalin, konsentrasi cairan tubuhnya hampir sama dengan lingkungannya,sehingga hanya sedikit melakukanosmoregulasi Osmoregulasi beberapa golongan ikan
• Ikan Elasmobransi, melakukan osmoregulasi dengan cara menahan urea sampai konsentrasi dalam darah meningkat kira-kira 5 % untuk meningkatkan total tekanan osmose darah ke tingkat yang lebih tinggi dibanding air laut

Sisa metabolisme yang mengandung nitrogen adalah amoniak,(NH3), urea dan asam urat. Bahan tersebut berasal dari perombakan protein. Amoniak dihasilkan dari proses deaminasi asam amino, amoniak adalah zat racun yang sangat berbahaya bagi sel. Pada hewan aquatik  dengan cepat berdifusi dalam air,hewan yang mengekresikan amoniak di sebut amnolitik.
Pada hewan darat amoniak dirubah didalam hati menjadi senyawa kurang berbahaya dalam bentuk urea dan asam urat. Pada kebayakan mamalia, amphibi dan ikan mengekresikan urea di sebut ureolitik.
Ura mudah larut dalam air dan di ekskresikan dalam cairan yang di sebut urin. Pada burung , reptile dan serangga  yang tubuhnya kekurangan air hidup hemat air. Maka dari itu urea mengekresikan persenyawaan yang tidak beracun yaitu asam urat, hewan –hewan ini disebut urikotelik.
Pembentukan bahan-bahan ekskresi 
a.    Amoniak
Hasil deaminasi asam amino yang terjadi pada hati dan juga ginjal dan bersifat sangat racun. Pada tubuh mamalia terdapat amoniak dalam konsentrasi yang sangat kecil yaitu 0,0001- 0,0003 mg per 100 ml darah. Pada amphibi dan ikan konsentrasi lebih tinggi yaitu 0,1 mg/100 ml darah. Pembentukan amoniak pada tubulus ginjal sangat penting untuk keseimbangan asam basa
b.    Urea
Berasal dari bahan organic tertentu seperti asam amino dan purin, pembentuknnya terjadi dihati. Dan sifat racunnya tidak terlalu berbahaya.
c.    Asam urat
Sisa metabolisme yang mengandung nitrogen  pada burung, reptile dan serangga. Di bentuk dari amoniak yang mengandung sedikit hidrogen dibandingkan urea. Di ekskresikan dalam bentuk urea . asam urat dikeluarkan  dalam bentuk kristal. Pada burung dan reptil asam urat dibentuk dalam hari sedangkan pada serangga dibentuk dalam badan malphigi. Pada manusia asam urat berasal dari metabolism purin


2.  ekskresi hewan darat dan aquatik
a. eksresi hewan darat




a.    ekskresi pada hewan aquatic

3. organ- organ ekskresi pada hewan
     a.    kelompok hewan yang belum memiliki organ ekskresi
- coelenterata
- echinodermata
b.    vakuola kontraktil
-    protozoa
-    bunga karang
c.    organ-organ nefridial
1.    protonefridium (yang tertutup)
-    plathyheminthes
-    ascelminthes
2.    metanefridium (terbuka pada ujung)
-    annelida
3.    nefridium
-    molusca
d.    kelenjar antennal
crustacean
e.    pembuluh malphigi
-    serangga
f.    ginjal
-    vertebrata

a.    organ ekskresi pada coelenterate dan echinodermata
dapat mengekskresikan sisa metabolism dengan difusi. Disamping itu coelenterate juga punya astrosit-astrosit yaitu sel ssel fagosit yang dapat menelan dan memindahkan zat asing.
Pada echinodermata tidak ada masalah dalam osmoregulasi karena tubuhnya sudah isoosmotik dengan air laut

b.    vakuola kontraktil
protozoa pada air tawar selalu memilki vakuola kontraktil sedangkan yang di laut tidakvakuola kontraktil berfungsi sebagai organ regulasi osmotic dan regulasi volume.
Anatomi vakuola kontraktil dapat memiliki tempat yang tetap dalam  sel misalnya pada paramecium, namun ada juga tempatnya sembarang seperti pada amuba. Lumen vakuola kontraktil dibatasi oleh suatu membran tunggal yang tipis. Di sekitar membrane terdapat suatu lapisan tebal yang disebut spongium  yang penuh dengan vesikel-vesikel kecil, sekitar lapisan vesikel-vesikel itu ada apisan mitokondria yang diperkirakan menyediakan energy yang diperlukan untuk kerja osmotic dalam membentuk isi vakuola

c.    organ-organ nefridial
1.    protonefridia : suatu pembuluh yang ujung internalnya tertutup dan bagian dalam ujung ini memiliki sel api atau sel rambut. Biasanya terdapat pada hewan yang tidak punya rongga tubuh yang sebenarnyadan tidak mempunyai system sirkulasi yang bertekanan tinggi.
2.    metanefridia : suatu pembuluh ekskretori yang ujungnya berhubungan dengan rongga tubuh (coelom) melalui struktur yang berbentuk corong yang disebut nefrostoma. Hanya dijumpai pada hewan yang memiliki coelom
3.    nefridium molusca :pada prinsipnya hampir sama pada ginjal vertebrata
d.    kelenjar antennal  crustacea
organ renal pada crustacean adalah kelenjar antennal atau kelenjar hijau yang terletak di kepala, yang masing-masing terdiri dari suatu kantong awal, yaitu suatu saluran ekskretori bergulung yang panjang, dan suatu kandung kencing yang bermuara sebagai pada lubang ekskretori dekat dasar antenna dan disebut kelenjar antenna

e.    saluran malphigi serangga
system ekskretori serangga terdiri dari saluran-saluran yang dikenal sebagai saluran malphigi. Jumlahnya berkisar dari dua sampai beberapa ratus. Setiap saluran bermuara ke intestin. Suatu susunan khusus saluran malphigi yang berhubungan dengan kemampuan luar biasa dalam menarik air dari kotoran. Ujung saluran yang buntu terletak dekat dengan rectum. Keseluruhan struktur dikelilingi oleh suatu membran yang terisi dengan cairan perirektal yang mengelilingi baik saluran malphigi maupun epithelial rectal tapi dipisahkan dari hemolimfa umum
f.     ginjal vertebrata
•    Ginjal pronefros (ikan dan amphibi)
Mula-mula berkembang pronefros di daerah anterior, terdapat 1-13 psang pembuluh pronefros.





C. ekskresi dan osmoregulasi pada hewan tingkat rendah dan tinggi
1. Hewan tingkat rendah
2. Hewan tingkat tinggi
a.    Sistem Ekskresi  Pisces (Ikan). Ginjal pada ikan adalah sepasang ginjal sederhana yang disebut mesonefros. Setelah dewasa, mesonefros akan berkembang menjadi ginjal opistonefros. Tubulus ginjal pada ikan mengalami modifikasi menjadi saluran yang berperan dalam transport spermatozoa (duktus eferen) ke arah kloaka. Ikan memiliki bentuk ginjal yang berbeda, sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan sekitarnya. Pada ikan air tawar, kondisi lingkungan sekitar yang hipotonis membuat jaringan ikan sangat mudah mengalami kelebihan cairan. Ginjal ikan air tawar memiliki kemiripan dengan ginjal manusia. Mekanisme filtrasi dan reabsorpsi juga terjadi pada ginjal ikan. Mineral dan zat-zat makanan lebih banyak diabsorbsi, sedangkan air hanya sedikit diserap. Dengan sedikit minum dan mengeluarkan urine dalam volume besar, ikan air tawar menjaga jaringan tubuhnya agar tetap dalam keadaan hipertonik. Ekskresi amonia dilakukan dengan cara difusi melalui insangnya. Ikan yang hidup di air laut, memiliki cara adaptasi yang berbeda. Ikan air laut sangat mudah mengalami dehidrasi karena air dalam tubuhnya akan cenderung mengalir keluar ke lingkungan sekitar melalui insang, mengikuti perbedaan tekanan osmotik. Ikan air laut tidak memiliki glomerulus sehingga mekanisme filtrasi tidak terjadi dan reabsorpsi pada tubulus juga terjadi dalam skala yang kecil. Oleh karena itu, ikan air laut beradaptasi dengan banyak meminum air laut, melakukan desalinasi (menghilangkan kadar garam dengan melepaskannya lewat insang), dan menghasilkan sedikit urine (Gambar 8.12). Urine yang dihasilkan akan dikeluarkan melalui lubang di dekat anus. Hal ini berbeda dengan pengeluaran urine dari ikan Chondrichthyes, misalnya hiu. Ikan hiu mengeluarkan urine melalui seluruh permukaan kulitnya.

Gambar 8.12 Sistem ekskresi pada (a) ikan air tawar dan (b) ikan air laut.
Ikan :
Ikan meamiliki sepasang ginjal yang memanjang {opistonefros) dan berwarna kemerah-merahan.
Mekanismenya :
Ikan Ikan mengekskresikan amonia dan aktif menyerap oksigen melalui insang serta mengeluarkan urin dalam jumlah yang besar melaui kloaka atau parus urogenitalis dan karbondioksida dikeluarkan melalui insang pada ikan yang hidup di air tawar megekskresikan aminia dan aktif menyerap oksigen melalui insang serta menghancurkan urin.
Sedangkan ikan yang hidup di air laut akan mengekskresikan amonia melalui urin yang jumlahnya sedikit.

b. Sistem Ekskresi Amphibia (Katak). Tipe ginjal pada Amphibia adalah tipe ginjal opistonefros. Katak jantan memiliki saluran ginjal dan saluran kelamin yang bersatu dan berakhir di kloaka. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada katak betina. Ginjal pada katak seperti halnya pada ikan, juga menjadi salah satu organ yang sangat berperan dalam pengaturan kadar air dalam tubuhnya. Kulit Amphibia yang tipis dapat menyebabkan Amphibia kekurangan cairan jika terlalu lama berada di darat. Begitu pula jika katak berada terlalu lama dalam air tawar. Air dengan sangat mudah masuk secara osmosis ke dalam jaringan tubuh melalui kulitnya.
 Katak dapat mengatur laju filtrasi dengan bantuan hormon, sesuai dengan kondisi air di sekitarnya. Ketika berada dalam air dengan jangka waktu yang lama, katak mengeluarkan urine dalam volume yang besar. Namun, kandung kemih katak dapat dengan mudah terisi air. Air tersebut dapat diserap oleh dinding kandung kemihnya sebagai cadangan air ketika katak berada di darat untuk waktu yang lama.

c. Sistem Ekskresi Reptilia. Tipe ginjal pada Reptilia adalah metanefros. Pada saat embrio, Reptilia memiliki ginjal tipe pronefros, kemudian pada saat dewasa berubah menjadi mesonefros hingga metanefros.

Gambar 8.14 Sistem ekskresi pada Reptilia, menggunakan tipe ginjal metanefros
Hasil ekskresi pada Reptilia adalah asam urat. Asam urat ini tidak terlalu toksik jika dibandingkan dengan amonia yang dihasilkan oleh Mammalia. Asam urat dapat juga diekskresikan tanpa disertai air dalam volume yang besar. Asam urat tersebut dapat diekskresikan dalam bentuk pasta berwarna putih. Beberapa jenis Reptilia juga menghasilkan amonia. Misalnya, pada buaya dan kura-kura. Penyu yang hidup di lautan memiliki kelenjar ekskresi untuk mengeluarkan garam yang dikandung dalam tubuhnya. Muara kelenjar ini adalah di dekat mata. Hasil ekskresi yang dihasilkan berupa air yang mengandung garam. Ketika penyu sedang bertelur, kita seringkali melihatnya mengeluarkan semacam air mata. Namun, yang kita lihat sebenarnya adalah hasil ekskresi garam. Ular, buaya, dan aligator tidak memiliki kandung kemih sehingga asam urat yang dihasilkan ginjalnya keluar bersama feses melalui kloaka.

d.    Sistem Ekskresi Aves (Burung). Burung memiliki ginjal dengan tipe metanefros. Burung tidak memiliki kandung kemih sehingga urine dan fesesnya bersatu dan keluar melalui lubang kloaka. Urine pada burung diekskresikan dalam bentuk asam urat. Metabolisme burung sangat cepat. Dengan demikian, sistem ekskresi juga harus memiliki dinamika yang sangat tinggi. Peningkatan efektivitas ini terlihat pada jumlah nefron yang dimiliki oleh ginjal burung. Setiap 1 mm3 ginjal burung, terdapat 100–500 nefron. Jumlah tersebut hampir 100 kali lipat jumlah nefron pada manusia. Jenis burung laut juga memiliki kelenjar ekskresi garam yang bermuara pada ujung matanya. Hal tersebut untuk mengimbangi pola makannya yang memangsa ikan laut dengan kadar garam tinggi.





e. sistem ekskresi pada mamalia
Sistem ekskresi pada manusia dan vertebrata lainnya melibatkan organ paru-paru, kulit, ginjal, dan hati. Namun yang terpenting dari keempat organ tersebut adalah ginjal.
1. Ginjal
Fungsi utama ginjal adalah mengekskresikan zat-zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogen misalnya amonia. Amonia adalah hasil pemecahan protein dan bermacam-macam garam, melalui proses deaminasi atau proses pembusukan mikroba dalam usus. Selain itu, ginjal juga berfungsi mengeksresikan zat yang jumlahnya berlebihan, misalnya vitamin yang larut dalam air; mempertahankan cairan ekstraselular dengan jalan mengeluarkan air bila berlebihan; serta mempertahankan keseimbangan asam dan basa. Sekresi dari ginjal berupa urin.

Gbr. Alat-alat ekskresi pada manusia yang berupa
ginjal, kulit, paruparu, dan kelenjar keringat
a. Struktur Ginjal
Bentuk ginjal seperti kacang merah, jumlahnya sepasang dan terletak di dorsal kiri dan kanan tulang belakang di daerah pinggang. Berat ginjal diperkirakan 0,5% dari berat badan, dan panjangnya ± 10 cm. Setiap menit 20-25% darah dipompa oleh jantung yang mengalir menuju ginjal.
Ginjal terdiri dari tiga bagian utama yaitu:
a. korteks (bagian luar)
b. medulla (sumsum ginjal)
c. pelvis renalis (rongga ginjal).
Bagian korteks ginjal mengandung banyak sekali nefron ± 100 juta sehingga permukaan kapiler ginjal menjadi luas, akibatnya perembesan zat buangan menjadi banyak. Setiap nefron terdiri atas badan Malphigi dan tubulus (saluran) yang panjang. Pada badan Malphigi terdapatkapsul Bowman yang bentuknya seperti mangkuk atau piala yang berupa selaput sel pipih. Kapsul Bowman membungkus glomerulus. Glomerulus berbentuk jalinan kapiler arterial. Tubulus pada badan Malphigi adalah tubulus proksimal yang bergulung dekat kapsul Bowman yang pada dinding sel terdapat banyak sekali mitokondria. Tubulus yang kedua adalah tubulus distal.

Gbr. Ginjal terletak di dorsal pinggang berjumlah sepasang

Gbr. Struktur dalam (anatomi) ginjal
Pada rongga ginjal bermuara pembuluh pengumpul. Rongga ginjal dihubungkan oleh ureter (berupa saluran) ke kandung kencing (vesika urinaria) yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara urin sebelum keluar tubuh. Dari kandung kencing menuju luar tubuh urin melewati saluran yang disebut uretra.
b. Proses-proses di dalam Ginjal
Di dalam ginjal terjadi rangkaian prows filtrasi, reabsorbsi, dan augmentasi.
1. Penyaringan (filtrasi)
Filtrasi terjadi pada kapiler glomerulus pada kapsul Bowman. Pada glomerulus terdapat sel-sel endotelium kapiler yang berpori (podosit) sehingga mempermudah proses penyaringan. Beberapa faktor yang mempermudah proses penyaringan adalah tekanan hidrolik dan permeabilitias yang tinggi pada glomerulus. Selain penyaringan, di glomelurus terjadi pula pengikatan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan.
Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer) yang komposisinya serupa dengan darah tetapi tidak mengandung protein. Pada filtrat glomerulus masih dapat ditemukan asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garamgaram lainnya.

2. Penyerapan kembali (Reabsorbsi)
Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu, 99% filtrat glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus kontortus distal.
Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari zat-zat ini direabsorbsi beberapa kali.
Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin seku Zder yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer. Pada urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya ureum dari 0,03`, dalam urin primer dapat mencapai 2% dalam urin sekunder.
Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam mino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osn osis. Reabsorbsi air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.
3. Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warm dan bau pada urin.
Hal-hal yang Mempengaruhi Produksi Urin
Hormon anti diuretik (ADH) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis posterior akan mempengaruhi penyerapan air pada bagian tubulus distal karma meningkatkan permeabilitias sel terhadap air. Jika hormon ADH rendah maka penyerapan air berkurang sehingga urin menjadi banyak dan encer. Sebaliknya, jika hormon ADH banyak, penyerapan air banyak sehingga urin sedikit dan pekat. Kehilangan kemampuan mensekresi ADH menyebabkan penyakti diabetes insipidus. Penderitanya akan menghasilkan urin yang sangat encer.
Gambar 4:Mekanisme kerja pengaruh hormon ADH terhadap produksi urin.
Selain ADH, banyak sedikitnya urin dipengaruhi pula oleh faktor-faktor berikut :
a. Jumlah air yang diminum
Akibat banyaknya air yang diminum, akan menurunkan konsentrasi protein yang dapat menyebabkan tekanan koloid protein menurun sehingga tekanan filtrasi kurang efektif. Hasilnya, urin yang diproduksi banyak.
b. Saraf
Rangsangan pada saraf ginjal akan menyebabkan penyempitan duktus aferen sehingga aliran darah ke glomerulus berkurang. Akibatnya, filtrasi kurang efektif karena tekanan darah menurun.
c. Banyak sedikitnya hormon insulin
Apabila hormon insulin kurang (penderita diabetes melitus), kadar gula dalam darah akan dikeluarkan lewat tubulus distal. Kelebihan kadar gula dalam tubulus distal mengganggu proses penyerapan air, sehingga orang akan sering mengeluarkan urin.

D. pengaruh lingkungan terhadap osmoregulasi
1. Osmoregulasi pada hewan invertebrata laut
Kebanyakan invertebrata yang berhabitat di laut tidak secara aktif mengatur sistem osmosis mereka, dan dikenal sebagai osmoconformer. Osmoconformer memiliki osmolaritas internal yang sama dengan lingkungannya sehingga tidak ada tendensi untuk memperoleh atau kehilangan air. Karena kebanyakan osmoconformer hidup di lingkungan yang memiliki komposisi kimia yang sangat stabil (i.e. di laut) maka osmoconformer memiliki osmolaritas yang cendrung konstan.
Sedangkan osmoregulator adalah organisme yang menjaga osmolaritasnya tanpa tergantung lingkungan sekitar. Oleh karena kemampuan meregulasi ini maka osmoregulator dapat hidup di lingkungan air tawar, daratan, serta lautan. Di lingkungan dengan konsentrasi cairan yang rendah, osmoregulator akan melepaskan cairan berlebihan dan sebaliknya
2. Osmoregulasi pada hewan vertebrata laut
Osmoregulasi pada hewan vertebrata laut dibagi kedalam dua kelompok yaitu:
a. Konformer Osmotik dan Ionik : Siklostomata (hagfish) danVertebrata primitif osmoregulasinya sama seperti invertebrata laut.
b. Regulator Osmotik dan Ionik : Regulasi osmotik dan ionik tidak sama dan memperlihatkan tingkatan dan Konsentrasi osmotik plasma mendekati sepertiga konsentrasi osmotik air laut.
Mekanisme Osmoregulasi Vertebrata Laut misalnya teleostai laut diperlukan mekanisme adaptasi untuk menghindari kehilangan air dari tubuhnya. Pada Elasmobrankhii menggunakan kelenjar rektal yaiut untuk mengeluarkan kelebihan Na+ secara aktif ,dan menghasilkan sedikit urin untuk Urin dimanfaatkan untuk mengeluarkan kelebihan NaCl.
Pada Mamalia Laut yaitu lumba-lumba dan ikan paus Masalah pemasukan garam yang terlalu banyak yang masuk bersama makanan,bisa Diatasi dengan organ ginjal yang sangat efisien yang dapat menghasilkan urin yang kepekatannya 3 – 4 kali dari cairan plasmanya.
3. Osmoregulai pada hewan di lingkungan air tawar .
Masalah yang dihadapi hewan air tawar adalah Tekanan Osmotik cairan tubuh hewan air tawar lebih tinggi dari lingkungannya (hiperosmotik/hipertoniskarena terancam oleh Kehilangan garam dan Pemasukan air yang berlebihan.Mekanisme Antisipasi Kelebihan atau Kekurangan Ion yaitu dengan transfor aktif dan difusi.
4. Osmoregulasi pada Hewan di Lingkungan Payau
Hewan Akuatik tidak selamanya menetap di habitat yang tetap (air laut atau air tawar) saat tertentu masuk ke daerah payau.contohnya belut , lampeer, dan ikan salmon.hewan hewan ini memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap perubahan kadar garam (kadar garam di daerah payau selalu berubah), selain itu larva nyamuk Aedes campestris Tumbuh baik di air tawar maupun di air bergaram yang lebih pekat dari cairan hemolimfenya Hidup di danau yang mengandung garam alkalis, dengan kandungan utama natrium karbonat dengan pH lebih dari 10Toleran terhadap kadar garam tiga kali lebih tinggi dari kadar garam air laut.
5. Osmoregulasi pada hewan di lingkungan darat
1) Keuntungan :
Hewan yang berhasil hidup di darat
Mudah memperoleh oksigen
2) Kerugian :
Masalah keseimbangan air dan ion
Mudah terancam dehidrasi
Kehilangan air dari tubuh pada hewan darat dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu :
1. Kandungan uap air di atmosfer
2. Tekanan barometrik
3. Gerakan udara
4. Luas permukaan penguapan
5.Suhu
6. Osmoregulasi padainvertebrata darat
padainvertebrata darat umumnya merupakan golongan Artropoda, Insekta, dan laba-laba, sedangkan yang paling banyak ialah Insekta.pada insect alat pengatur pelepasan airya adalah lapisan kutikula spirakel, namun masih saja kehilangan air , sehingga untuk membatasi pelepasan air dilakukan dengan Respirasi diskontinyu. dengan cara pengambilan oksigen (O2) dilakukan dengan laju yang kontinyu dan pelepasan karbondioksida (CO 2)dilakukan secara periodik.